Home / Kajian SBI / Pendidikan KH Badri Mashduqi Agar Berhati-Hatilah Dalam Menjalankan Amanah

Pendidikan KH Badri Mashduqi Agar Berhati-Hatilah Dalam Menjalankan Amanah

Suatu ketika, KH.Badri Mashduqi menugaskan seorang santrinya untuk menulis surat undangan berbahasa Arab. Surat ini mau dikirim ke luar negeri.

Santri yang yang ditugasi oleh beliau bernama Ali Sabiq. Dia adalah santri yang mempunyai pengalaman dalam juara lomba kaligrafi Arab (baca, Tahshinul Khoth) di tingkat Provinsi Jawa Timur sampai tiga kali juara, dua kali mengikuti lomba meraih juara 2 dan dia mengikuti lomba lagi meraih juara 1.

Selanjutnya, setelah surat dianggap selesai, si Sabiq memberikan hasil tulisan suratnya kepada KH.Badri Mashduqi. Setelah dicek surat tersebut, KH.Badri Mashduqi marah besar karena nama beliau—mestinya KH.Badri Mashduqi—malah tertuliskan, KH.Badi Mashduqi. Berarti, huruf Ro’ (bahasa Arab) tidak tertulis. Akhirnya KH.Badri Mashduqi marah kepada Ali Sabiq. Surat tersebut disobek-sobek (bahasa Madura, omek-omek), lantas beliau melemparkan ke muka Ali Sabiq.

“Kamu ini, saya masih hidup, sudah berani kamu merubah nama saya, apalagi saya sudah mati, kalau perlu nama saya dijual,” tegas KH.Badri Mashduqi.

Untuk kedua kalinya, si Sabiq mendapat perintah lagi untuk menulis surat. Oleh si Sabiq, selesai surat itu ditulis lalu dibacanya berulang-ulang sebelum disetorkan ke Kiai. Malah terkadang untuk mengecek tulisannya sebelum disetorkan kepada Kiai, si Sabiq minta bantuan terlebih dulu kepada orang lain. Kalau sudah dianggap benar, tidak terjadi kesalahan, baru kemudian si Sabiq menghadap Kiai.

“Kenapa kamu kok sudah tidak salah lagi nulis?,” tanya KH.Badri Mashduqi sambil tersenyum.

“Ya, Kiai, khawatir kena sembur lagi,” jawab Sabiq.

Ali Sabiq mengakui, betapa besar pendidikan yang diterimanya dari guru, KH.Badri Mashduqi. “Biasanya, Kiai kalau marah pagi, sorenya si santri yang kena marah itu dipanggil atau paling tidak esok hari. Lantas kiai memberi uang, makanan dan kaus (kaus baju),” cerita Sabiq.

“Kemarin saya marah apa ke kamu. Coba ceritakan!,” dawuh KH.Badri Mashduqi kepada Ali Sabiq.

Selesai Ali Sabiq ceritakan (red.), baru KH.Badri Mashduqi minta maaf, “Oh ya, maafkan saya yaa,” dawuh beliau.

Dengan demikian, KH.Badri Mashduqi marah bukan berarti tidak sayang kepada santrinya. Beliau ingin mendidik santrinya betul-betul menjadi santri yang teliti dan berhati-hati menjalankan amanah. Dampak dari marahnya seorang guru kepada Ali Sabiq membuat Ali Sabiq lebih berhati-hati. “Kiai keras agar santrinya tidak sembrono,” tegas Ali Sabiq.

#Wawancara kepada Ust.Ali Sabiq, di Kraksaan Probolinggo, pada 25 Agustus 2015.

Kraksaan, 2 Shafar 1440 H./ 10 Oktober 2018 M.

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

About admin

Check Also

Museum KH.Badri Mashduqi

Museum KH.Badri Mashduqi yang diprogram lembaga SBI (Syaikh Badri Institute) amatlah berharga dan menjadi kenangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *