Alhamdulillah wa syukrulillah, saya, Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute), merasa bangga mempunyai ibu yang mengaji langsung dan menjadi haddamah Nyai Hajjah Fatmah Mawardi (ibunda KH.Badri Mashduqi) ketika masih berada di Prenduan, Sumenep.

Lalu saya bertanya kepada ibuku, “Emmak…, kadiponapa ewakto empean ngaji ka Nyai Fatmah e Prenduan ? (Ibu…, bagaimana sewaktu sampean mengaji kepada Nyai Fatmah di Prenduan),” tanya saya.

“Cong…, Nyai Fatmah pajet hebat. Maske bi’-dibi’an tape tak kala ka oreng lake’ (Nak…, Nyai Fatmah memang perempuan hebat. Tidak kalah dengan laki-laki),” jawabnya.

“Ma’ saneka, Mak ? (Kok begitu, Ibu ?),” tanya saya.

“Iyye. Maske nek-binek tape bisa ajuang dibi’. Keae Mashduqi kan elang. Tape Nyai Fatmah bisa sampe’ andhi’ Madrasah dibi’, bisa usaha dibi’ sampe’ andhi’ ‘pagan’ (Ya. Meskipun perempuan tapi bisa berjuang sendiri. Kiai Mashduqi kan hilang (menjadi Rijalul Ghaib). Tapi Nyai Fatmah bisa sampai punya Madrasah sendiri, bisa berusaha sendiri, sampai punya ‘pagan’/ lumbung ikan yang berada di lautan terbuat dari bambu),” tegasnya.

Sewaktu saya ke Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, melakukan wawancara khusus kepada KH.Mohammad Tijani DJauhari, MA. pada tahun 2015. Kiai Tijani sebagai pengasuh Pesantrennya.

Menurut pengakuan KH.Mohammad Tijani Djauhari, MA., “Nyai Fatmah adalah sosok perempuan yang memiliki cita-cita besar. Cita-citanya cukup tinggi (‘Uluwwu al-Himmah). Ia mempunyai optimisme yang cemerlang, suatu saat mempunyai Pesantren Besar. Karena itulah berdirinya Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini adalah Nyai Fatmah salah satu di antara pendukungnya. Beliau adalah suporter dan motivatornya. Karena itu, Nyai Fatmah bersama KH.Ahmad Djauhari (Pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan) dan Nyai Maryamah (istri KH.Ahmad Djauhari) serta beberapa keponakan Kiai Djauhari tetap membina dan ngopeni lembaga-lembaga pendidikan yang dirintisnya sampai sekarang.”

“Saat itu, Nyai Hj.Fatmah sebagai sosok ibu menjadi tumpuan harapan dan tempat inspirasi bagi seorang putera dan para cucunya. Dengan segala situasi dan kondisi, terutama ketika seorang puteranya (KH.Badri Mashduqi) dipenjara di Jember, pada tahun 1977, karena aktivitasnya dalam politik praktis, dengan keterlibatannya di partai-partai NU dan keberaniannya dalam menyampaikan materi dakwahnya yang banyak mengeritik pemerintah. Dan sebagai seorang ibu, Nyai Fatmah menjadi pendorong, penyemangat yang amat kuat sehingga pada akhirnya seorang putera itu bisa dikeluarkan dari penjara dengan tanpa punya kesalahan apa-apa,” tambah Kiai Tijani.

Begitu juga dituturkan oleh seorang cucunya, KH.Tauhidullah Badri (Pengasuh kedua Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo), “Terhadap para cucunya, hampir semua cucu beliau bisa baca Al-Qur’an dan bisa baca tulis huruf latin karena ketelatenan Mbah Fatmah,” begitulah Kiai Tauhid menuturkan.

“Penyair Libanon, Kholil Gibran dalam bukunya “Sayap-Sayap Patah”, mengungkapkan obsesinya tentang sosok wanita sebagai berikut : “Akan datang masanya ketika keanggunan dan pengetahuan, kelincahan dan kewibawaan, serta kelemahan raga dan keperkasaan jiwa menyatu dalam diri seorang wanita ? Rasa-rasanya obsesi tersebut ada pada Profil Almarhumah Ny.Hj.Fatmah Mawardi. ”

Kraksaan, 26 Agustus 2017

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher Abdullah Afyudi

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here