Home / Kajian SBI / METODOLOGI KH.BADRI MASHDUQI DALAM MEMBERIKAN PEMAHAMAN TAREKAT

METODOLOGI KH.BADRI MASHDUQI DALAM MEMBERIKAN PEMAHAMAN TAREKAT

KH.Badri Mashduqi amat kaya metodologi. Tentang bagaimana cara memberikan pemahaman tarekat, beliau memberikan metodologi yang cukup menarik seraya menghimbau agar dalam memahami tarekat seharusnya komprehensif (mengandung pengertian yang luas dan menyeluruh), yaitu memahami tentang tarekat jangan sampai sepotong-sepotong. Pertama-tama beliau berwasiat:

“Jangan sampai di thariqat ada dua macam bahaya dari dua macam kelompok: Pertama, Alim Mutahattik yaitu alim yang tidak menghargai diri dan ilmunya. Kedua, Jahil Mutanassik yaitu orang yang bodoh yang tidak mengerti tentang ibadah yang dilakukannya tapi berlagak shufi!”

Secara metodologis, KH.Badri Mashduqi menyatakan tentang thariqat dinyatakan dengan cukup menarik. Beliau menceritakannya dengan tamsil dari Imam Ghazali tentang enam orang buta mengenal gajah baru kemudian beliau memberikan konklusinya.

“Konon, zaman dahulu kata Imam Ghazali ada 6 orang buta, sedang yang satu—kecuali buta ditambah cebol—, bermufakatlah mereka untuk nonton gajah. Begitu sampai di pintu gerbang kebun binatang untuk menontonnya dibentak oleh penjaga pintu, “Hai kekompok orang buta, mau apa dan mau kemana kamu sekalian?” Jawab mereka serentak, “Mau nonton gajah.” Kata si penjaga, “Orang buta?” Jawab mereka, “Apa salahnya kalau kita meraba-raba dengan tangan?” Kata si penjaga, “Silakan masuk asal ada uang, tiap orang seribu untuk bayar karcis.” Masuklah mereka semuanya dan sampailah kepada gajah. Yang pertama meraba kena belalainya, menepuk dada merasa puas terus dia mundur; yang kedua maju meraba kena kakinya terus dia mundur dengan merasa lega dan puas; yang ketiga pun begitu juga perasaannya, setelah meraba kena kupingnya; begitu juga yang keempat, memegangnya kena perutnya; yang kelima memegangnya kena ekornya; sedang yang keenam meraba-raba, maklum karena cebol, tidak kena apa-apa, lalu berteriak-teriak seraya berkata, “Hai, kalian ini penipu semuanya, saya dikibuli, barang gajah tidak ada dibilang ada gajah, ayo pulang semua.” Pulanglah mereka semua sambil ribut dan bertengkar masalah gajah. Kata yang pertama, gajah seperti selang; kata yang kedua, gajah seperti pilar; kata yang ketiga, gajah seperti kipas; kata yang keempat, gajah seperti beduk; dan kata yang kelima, gajah seperti cemeti; sedang yang keenam, si cebol yang buta, “Apa, omong kosong, nonsen semuanya, gajah tidak ada (sambil melompat-lompat, berteriak-teriak bilang: tidak ada gajah). Aku merasa rugi habis seribu nuruti omong kosong.”

Dari tamsil itulah KH.Badri Mashduqi mencontohkan kepada orang ngaji yang ngajinya sepotong-sepotong sehingga pengertiannya pun pada akhirnya sepotong-potong pula. Lebih khusus, tamsil ini dicontohkannya oleh KH.Badri Mashduqi tentang bagaimana seharusnya kita memahami thariqat dan pemahaman terhadap Islam itu sendiri. Dauh KH.Badri Mashduqi: “Memahami Islam secara sepotong-sepotong hanya akan menghasilkan perpecahan dan kemelut yang tak berakhir.” Secara detail, berikut KH.Badri Mashduqi menjelaskan:

“Begitulah tamsil orang yang bodoh yang tidak mau ngaji seperti ceritanya si cebol ini, atau biar pun mengaji tapi ngajinya hanya sepotong-sepotong sehingga membawa pengertian yang sepotong-sepotong pula. Hanya Nahwu yang dipelajari dia merasa puas dengan Nahwunya sehingga mencemooh ilmu-ilmu yang lain. Begitulah halnya orang yang mencemooh thariqat, padahal syari’at, thariqat dan haqiqat merupakan satu unit atau perangkat yang tidak boleh dipretel-preteli dan diprotol-protoli. Memahami Islam secara sepotong-sepotong hanya akan menghasilkan perpecahan dan kemelut yang tak berakhir, padahal menurut Syaikh Nawawi, Iman, Islam dan Ihsan, begitu pula syari’at, thariqat dan haqiqat merupakan satu paket, tak ubahnya atau laksana kelapa, ya ada sabutnya, ada tempurungnya dan ada biji di dalamnya.”

Kraksaan,
1 Muharram 1440 H./ 11 September 2018

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

About admin

Check Also

Museum KH.Badri Mashduqi

Museum KH.Badri Mashduqi yang diprogram lembaga SBI (Syaikh Badri Institute) amatlah berharga dan menjadi kenangan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *