Home / Kajian SBI / MENELADANI PRINSIP, SIKAP DAN PENDIRIAN POLITIK ALMARHUM KH.BADRI MASHDUQI

MENELADANI PRINSIP, SIKAP DAN PENDIRIAN POLITIK ALMARHUM KH.BADRI MASHDUQI

KH.Musthofa Qutbi Badri, MA., putra tertua Almarhum Almaghfurlahu KH.Badri Mashduqi menyatakan bahwa sejak dulu, prinsip yang ditekankan Syaikhuna Badri Mashduqi kepada putra-putrinya:

1. Jangan pernah mencari musuh, namun jika ada musuh janganlah lari;

2. Janganlah lari dari kebenaran.

Kedua prinsip di atas menjadi pijakan, sikap dan pendirian yang kuat yang ditancapkan oleh KH.Badri Mashduqi kepada jiwa putra-putrinya sehingga diharapkan mereka tidak berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya.

Tentunya kedua prinsip tersebut tidak sebatas dipahami untuk kepentingan dalam kehidupan yang sempit. Syaikhuna Badri Mashduqi menanamkan kedua prinsip tersebut kepada putra-putri dan santri-santrinya untuk perjuangan dalam medan kehidupan yang luas. Termasuk dalam hal ini, perjuangan dalam dunia politik untuk tujuan ibadah dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Dengan kedua prinsip itulah KH.Musthofa Qutbi Badri, MA, menyerukan, khususnya kepada saudara-saudaranya beliau sendiri dan kepada para alumni atau siapapun yang pernah berguru kepada Syaikhuna Badri Mashduqi.

Karena itulah dalam momentum Pilkada 2018 ini, putra bungsu KH.Badri Mashduqi, Lora Muzayyan Badri maju sebagai wakil Bupati Probolinggo mendampingi Mas Malik Haramain sebagai caon Bupati, dan kedua prinsip itulah dijadikan pegangannya.

Di hadapan para santri-santri Almarhum KH.Badri Mashduqi, melalui kegiatan rutin Kamis Wage pada sore hari , “Ziarah Maqbaroh Syaikhuna Badri Mashduqi,” acara diprakarsai Himpunan Alumni Santri Badridduja (HASB) Probolinggo, melalui acara ini, KH.Musthofa Qutbi menyerukan agar prinsip-prinsip KH.Badri Mashduqi betul-betul menjadi rujukan, dalam setiap gerak dan sikap pendirian dalam mengarungi kehidupan (termasuk dalam dunia politik), sekalipun beliau tiada, telah mendahului kita sekitar 15 tahun yang silam, namun diharapkan—sebagaimana KH.Musthofa menyerukan—agar prinsip-prinsip Syaikhuna Badri Mashduqi terus mengalir dan menjiwai putra-putri Syaikh Badri dan santri-santrinya.

KH.Musthofa Qutbi Badri, MA. di hadapan para alumni Pondok Pesantren Badridduja Kabupaten Probolinggo, tegas menyatakan:

“Keluarga besar Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan bersikap istiqomah di dalam menegakkan kebenaran dan berani di dalam menghadapi kedzoliman.”

Prinsip inilah yang menjadi pedoman dan dasar pijakan keluarga besar Pondok Pesantren Badridduja di dalam mendukung penuh atas pencalonan Lora Muzayyan Badri (putra bungsu Syaikhuna KH.Badri Mashduqi) sebagi wakil bupati Probolinggo.

Menjalankan wasiat seorang Abah (ayah) tidaklah serta merta segampang diucapkan. Karena itulah putra tertua Almarhum Almaghfurlahu KH.Badri Mashduqi, KH.Musthofa Qutbi Badri, MA. selalu menyerukan kepada sesama saudaranya dan kepada santri-santri Almarhum KH.Badri Mashduqi yang telah terjun di tengah-tengah masyarakat.

“Mon pas bede alumni se ta’ adukung, napa pole pas bos ngembosin, tekka’a pon semma’ bungkonna, maske atatangge, ben insya Allah, Almarhum Abah ka’ dhinto bakal tak narema dunnya aherat (Jika ada alumni yang tidak mendukung, apalagi menggembos-gembosi, walaupun sedekat apapun rumahnya, meskipun bertetangga, dan insya Allah, Almarhum Abah/KH.Badri Mashduqi tidak bakal menerimanya dunia akhirat),” tegas KH.Musthofa Qutbi Badri.

Kenap Kiai Musthofa begitu tegas menyerukan dalam hal ini? Karena dengan majunya Lora Muzayyan sebagai wakil Bupati Probolinggo, Kiai Musthofa Qutbi ‘erabuin’, KH.Badri Mashduqi datang dalam sebuah mimpi, berpesan:

“Naaak, tolong ini bacakan ke adiknya, Muzayyan…!,” dawuh Almarhum KH.Badri Mashduqi.

Bacaan yang merupakan pesan atau amanat KH.Badri Mashduqi untuk Lora Muzayyan dimaksud adalah sebuah hadist Rasulullah SAW.:

لن تهلك الرعية إن كانت ظالمة مسيئة إن كانت الولات هادية مرضية ، وتهلك الرعية إن كانت صالحة مطيعة إن كانت الولات ظالمة مسيئة
“Sejelek dan sedzolim apapun rakyat tidak akan binasa jika mempunyai pemimpin yang patuh, memperoleh hidayah dan ridlo Allah SWT, namun sebaliknya, sebaik dan sepatuh apapun rakyatnya, mereka akan binasa jika kejelekan dan kedzoliman ada pada pemimpinnya.”

Sikap dan pendirin inilah dijadikan prinsip, yang dalam hal ini, KH.Musthofa Qutbi selaku putra tertua Almarhum KH.Badri Mashduqi, selalu menekankan kepada Dzurriyah (keturunan) KH.Badri Mashduqi beserta para alumni Pondok Pesantren Badridduja.

Karena itulah KH.Musthofa Qutbi dengan tegas dan suara lantang, kepada para alumni Badridduja menyatakan:

“Mon ghi’ ngako ret-moretta Abah, mon ghi’ peduli dha’ perjuanganna syari’at Allah, samangken kabupaten Probolinggo neka ampon baktonna berubah, pemimpin se ongghu-ongghu jelas nasabbe, banni oreng se andhi’ nasab napa katoronna PKI, tak kataoan juntrungnya dhari ka’emma, aslinna dhari ka’emma? Reng sepponna dhari ka’emma? Napa ka Abu Jahal, napa ka pasera? Insya Allah, Mas Malik sareng le’ Muzayyan paneka lebih unggul: Mas Malik katoronna Keae, le’ Muzayyan katoronna Keae. Lee neka insya Allah malarmoga daddiyyah shiilah, nyambungnga dha’ para shalihin-shalihat, para Alim Ulama sehingga beden kaule sadeje epakompol sareng Allah SWT. untuk perjuangan ka’entoh, saengge beden kaule sadeje leppas dhari tanggung jawab aherat neng ajunanna Allah SWT (Jika masih mengakui santri-santrinya Abah, jika masih peduli kepada perjuangan syari’at Allah, sekarang kabupaten Probolinggo sudah waktunya berubah, pemimpin yang betul-betul jelas nasabnya, bukan yang punya nasab, apa keturunannya PKI, tidak ketahuan dari mana juntrungnya atau asal-usulnya, berasal dari mana? Orang tuanya dari mana? Apa sejalur dengan Abu Jahal ataukah jalur nasabnya ke siapa…? Insya Allah, Mas Malik dan Lora Muzayyan keturunannya (sudah jelas) seorang kiai, Mas Malik keturunannya Kiai, dik Muzayyan juga keturunannya Kiai. Nah inilah insya Allah menjadikan shilah, sambungan pada shalihin-shalihat, sehingga kita, semua bisa dikumpulkan bersama oleh Allah SWT untuk perjuangan semacam ini. Sehingga dengan demikian kita lepas dari tanggung jawab akhirat kelak di hadapan Allah SWT).”

KH.Musthofa Qutbi Badri menyatakan, dalam isyarah mimpi seorang Abahnya, KH.Badri Mashduqi, dengan jelas dan suara lantang—isyarah ini telah disampaikan kembali oleh KH.Musthofa kepada seorang adiknya, KH.Tauhidullah Badri, dengan tujuan untuk disampaikan kembali kepada adik bungsunya yang pada tahun ini (2018) mencalonkan sebagai wakil Bupati Probolinggo (Lora Muzayyan Badri), yaitu :
إذا انكشف الغبار ستعرف أفرس بين رجليك أو حمار
“Jika seluruh kabut-kabut ini terungkap, niscaya akan kelihatan siapa yang menunggangi kuda dan siapa yang menunggangi keledai.”

“Berarti alumni mon ta’ adukung lek Muzayyan neka, kelassa kelas keledai…Kelassa kelas keledai. Ta’ andhi’ pangkat neng ajunan Allah SWT (Berarti alumni jika tidak mendukung adik Muzayyan ini, kelasnya kelas keledai…Kelasnya kelas keledai, tidak punya pangkat di hadapan Allah SWT),” tegas KH.Musthofa Qutbi Badri.

# Tausiyah KH.Musthofa Qutbi Badri, MA. yang dalam kesempatan ini beliau didampingi KH.Tauhidullah Badri, disampaikan di hadapan para alumni Probolinggo dalam kegiatan rutin Kamis Wage, Ziaroh Maqbaroh Syaikhuna Badri Mashduqi yang diprakarsai oleh Himpunan Alumni Santri Badridduja (HASB) Probolinggo, 8 Februari 2018.

Editor: Saifullah (Ketua Sayaikh Badri Institute)

Publisher Abdullah Afyudi

About admin

Check Also

Atensi KH.Badri Mashduqi Dan Nyai Fatmah Mawardi Terhadap Al-Qur’an Menjadi Inspirator Berdirinya Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Anak Badridduja

KH.Badri Mashduqi amat tinggi atensinya terhadap Al-Qur’an. Jika beliau mendengar santrinya keliru se- makhroj atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *