Dermawan merupakan sifat yang mulia, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Sang Maha Kasih dan Maha Sayang… Ya Allah ya Rohman ya Rohiim…

Kita tidak akan disayang Allah jika kita masih belum mencurahkan kasih sayangnya kepada sesama hamba. Dan saya kira, yang namanya dermawan, suka memberi sesuatu kepada orang lain, seperti infaq atau shadaqah itu, tidak lahir begitu saja. Artinya, jika kita sendiri dermawan, itu bisa jadi pengaruh dari sifat atau karakter orang tua kita. Dan Kiai Muzayyan, yang saya tahu, beliau adalah putra Kiai yang dermawan, yaitu Syaikhona Badri Mashduqi, yang di antara sifat atau karakternya adalah dermawan.

Sewaktu saya mondok di PP.Badridduja Kraksaan, Probolinggo, pagi – pagi, yakni sebelum mentari terbit, Kiai Muzayyan, dengan celana pendek, lusuh dan berkaos oblong ditambah dengan menggunakan topi lebarnya, yaitu topi yang biasa dipakai oleh penanam padi, yakni orang “manjek”, kata bahasa Maduranya. Dan pagi – pagi itulah, Kiai Muzayyan datang ke kamar saya, beliau memberikan beberapa uang recehan dan uang ribuan kepada saya, sembari beliau dawuh:

“Zainul, nih uang buat beli rokok kamu. Saya barusan ini, sehabis subuh, pinjam becak dan muatannya pedagang ikan dari Kali Buntu mau ke pasar Semampir”.

Kemudian saya bertanya ke Lora : “Lora, kenapa Ajunan (Kiai Muzayyan) lakukan ini, sampai naik becak ?”

Beliau jawab, “Katanya kamu nggak punya uang ?”

Saya pun jawab, “Memang betul, Ra, tapi kenapa Ajunan (Kiai Muzayyan) sampai naik becak, cari penumpang ?”

“Karena saya juga nggak punya uang,” jawab Lora.

Duh Gusti, sehari sebelumnya, saya memang pernah bilang ke beliau, bahwa kalau saya nggak punya uang sama sekali.

Baru kemudian beliau bilang ke saya, “Nul, ayo pejetin betisku, sakit cari uang buat kamu.”
Duh Gusti, beliau begitu sangat perhatian ke pada saya, padahal umur beliau masih muda, jauh lebih tua saya.
Salam cinta buat beliau, Kiai Muzayyan.

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here