Kiai Badri dan Kiai Tijani; Penggagas Idul Khatmi Bertaraf Nasional

0
528
Syaikh Badri Institute - KH.Badri Mashduqi bersama Syaikh Idris Al-Iraqi, Vez Maroko.

Mungkin saja, para penganut Thariqah Tijaniyah di Indonesia sebagian besar belum banyak mengetahui, siapa sebenarnya penggagas Idul Khatmi Nasional ? Pertanyaan ini diangkat mempunyai tujuan untuk tidak melupakan sejarah dan sekaligus mengenang serta untuk mengetahui, siapa yang sebenarnya yang amat berjasa, khususnya dalam hal ini yang terkait dengan penggagasnya dan yang terlibat di dalamnya.

Sejauh ini, penulis (Ketua Syaikh Badri Institute) belum menemukan literatur yang mempertegas secara detail, siapa sebenarnya penggagas Idul Khatmi Thariqah Tijaniyah tingkat nasional. Karena itulah, penulis berupaya mencari saksi sejarah untuk mempertegas tentang penggagasnya.

Pada tanggal 6 Agustus 2015, penulis, selama satu hari satu malam (menginap) di kediaman KH.Fauzan Adziman Fathullah (Muqaddam Thariqah Tijaniyah dari Pasuruan) — waktu itu (6 Agustus 2015) KH.Fauzan sudah menetap di kota Probolinggo. Kiai Fauzan ini, adalah saksi sejarah tentang siapa sebenarnya penggagas Idul Khatmi bertaraf nasional. Berikut penegasan KH.Fauzan Adziman Fathullah :

“KH.Badri Mashduqi dan KH.Mohammad Tijani (Muqaddam Thariqah Tijaniyah Madura dan Pengasuh Pesantren Al-Amien Prenduan) adalah penggagas Idul Khatmi Thariqah Tijaniyah Tingkat Nasional. Alasan Kiai Badri sangat realistis dengan banyaknya dan berkembabgnya pengikut Tijani di Indonesia. “Melihat semakin pesatnya para pengikut Tijani, maka sangat penting, harus ada wadah organisasi yang menangani jamaah bertaraf nasional,” tegas Kiai Badri di hadapan Kiai-Kiai. Baru berikutnya diselenggarakanlah oleh KH.Umar Baidlawi, Surabaya. Memang awalnya, KH.Umar Baidlawi dan KH.Mukhlas A. Ghazi belum menyetujui gagasan tersebut. Alasan tidak menyetujuinya, karena dikawatirkan ada pimpinan dua, ya pimpinan tarekat, ya pimpinan Tijani. Akhirnya saya menengai (usul) kepada keduanya: “Gagasan Kiai Badri dan Kiai Tijani penting, Kiai. Biar penataan organisasi dan administrasinya terkelola dengan baik dan rapi,” kata saya kepada Kiai Umar. Setelah diskusi (musyawarah) tersebut, baru KH.Umar Baidlawi menyetujui gagasan Kiai Badri dan Kiai Tijani. Apa kata Kiai Umar Baidlawi pada waktu itu : “Saya setuju itu dengan syarat, didampingi Kiai Mukhlas dan Kiai Fauzan sebagai Katibnya (sekretaris)”.

“Saya kagum terhadap gagasan KH.Badri Mashduqi. Beliau memang kaya gagasan, terlebih untuk kepentingan umat dan bangsa. Kekaguman saya lagi, ada beberapa buku karya saya, yang beberapa pengantar buku, konseptornya ya Kiai Badri itu,” tambah Kiai Fauzan.

“Termasuk lagi, lambang Thariqah Tijaniyah nasional, ya Kiai Badri itulah di antara penggagasnya. Berempat waktu itu, ya Kiai Badri, saya, Kiai Umar Baidlawi, dan Kiai Mukhlas,” tegas Kiai Fauzan.

Berdasarkan buku, “Thariqah Tijaniyah di Indonesia Pengantar, Sejarah dan Perkembangannya”, karya Abdul Ghani Baidlowi, bahwa pertama kali, kegiatan Idul Khatmi At-Tijani di Indonesia, dilaksanakan pada tahun 1979, dihadiri kurang lebih 2000 lebih jamaah. Tempat acara ini berada di Betoyo, Gresik, Jawa Timur. Selanjutnya, secara berturut-turut, kegiatan ini terlaksana pada 1980, dan 1981.

Selain itu, penulis (Ketua SBI), menanyakan kepada salah seorang Muqaddam Thariqah Tijaniyah di Lumajang, yakni kepada Kiai Haris Abdul Hamid. Jawaban Kiai Abdul Hamid persis dengan kesaksian KH.Fauzan Adziman Fathullah :

“Penggagas Idul Khatmi taraf nasional memang Almarhum KH.Badri Mashduqi. Dan yang mengadakannya pertama ialah Almaghfurlah Kiai Mas Umar Baidhowi Surabaya, tepatnya diletakkan di Betoyo Gresik.”

KH.Badri Mashduqi mempunyai kepedulian besar terhadap keberadaan Thariqah Tijaniyah di Indonesia. Bagi KH.Badri Mashduqi bahwa dengan semakin meningkatnya penganut Thariqah Tijaniyah maka akan semakin memberikan kontribusi besar terhadap kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Berikut KH.Badri Mashduqi menegaskan :

“Pemerintah tidak akan rugi dengan adanya Tarekat Tijaniyah. Kalau semuanya masuk, untung pemerintah, kejahatan tidak akan ada di bumi Indonesia”.

Dengan demikian, sangat besar kontribusi Tarekat Tijaniyah untuk kejayaan bangsa Indonesia.

Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke-72. Semoga Indonesia Jaya. Aamiin.

Kraksaan, 17 Agustus 2017

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher : Abdullah Afyudi

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here