Home / Berita Dan Opini / KH.Badri Mashduqi; Penggagas Bahtsul Masa’il NU Kraksaan

KH.Badri Mashduqi; Penggagas Bahtsul Masa’il NU Kraksaan

Sebelum dilaksanakannya acara Bedah Buku, “Kiai Bahtsul Masa’il Kiprah dan Keteladanan KH.Badri Mashduqi” — Bedah Buku dalam rangka Harlah ke-50 (Setengah Abad) Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo, pada 2016 — dan satu minggu sebelum acara, kami (penulis buku/Seksi Pelaksana Bedah Buku bersama Sekretaris Bedah Buku, Sukran Sabar), mengantarkan surat undangan acaranya kepada santri senior Pesantren Badridduja, bernama, KH.Nahrawi di Pesantren Sentong Krejengan Probolinggo.

Di dalam surat undangan, tercantum foto cover (sampul) buku yang lengkap foto KH.Badri Mashduqi serta tertulis judul buku, “Kiai Bahtsul Masa’il Kiprah dan Keteladanan KH.Badri Mashduqi”. Sesampainya kami di depan pintu Kiai Nahrawi Sentong, kami pun ucapkan salam. Alhamdulillah pada waktu itu Kiai Nahrawi ada di kediamannya. Beliau terlihat kesederhanaanya dengan bahasa nan lembut.

“Bede ponapa ghi ? (Ada acara apa ya ?),” tanya Kiai Nahrawi kepada kami.

“Abdina santrena Keae Badri, Keae. Abdina dhari panitia bedah buku Keae Badri, nyampayagina sorat ondhangan acara bedah buku dha’ ajunan (Kami santrinya Kiai Badri, Kiai. Kami berdua dari panitia bedah buku Kiai Badri, mengantarkan surat undangan acara bedah buku kepada panjenengan),” kata kami.

Spontan Kiai Nahrawi menyatakan :

“Lerres, kaule se epakon sareng Keae ngadhep ka Keae Zaini Mun’im Nurul Jadid ka’angguy arintis kegiatan Bahtsul Masa’il NU Cabang Kraksaan. E bakto ganeka, kaule epakon sareng Keae ngaterragi ondhangan acara Maulid Nabi ka Keae Zaini Mun’im. Asarengan ganeka pas Keae adhabu ka kaule : “Salamagi ka Keae (KH.Zaini Mun’im), kaule mabedhe’e Bahtsul Masa’il NU Kraksaan” (Betul, sayalah yang ditugasi Kiai Badri untuk menghadap kepada Kiai Zaini Mun’im Nurul Jadid untuk merintis kegiatan Bahtsul Masa’il NU Cabang Kraksaan. Waktu itu, saya ditugasi oleh Kiai untuk mengantarkan surat undangan acara Pengajian Maulid Nabi. Bersamaan dengan itu, Kiai lantas mengatakan : “Salamkan ya kepada Kiai (Kiai Zaini Mun’im), saya akan mengadakan Bahtsul Masa’il NU Cabang Kraksaan.”

Sewaktu Kiai Nahrawi mengantarkan undangannya dan beliau sekalian menyampaikan salam Kiai (KH.Badri Mashduqi) kepada KH.Zaini Mun’im tentang gagasan Bahtsul Masa’il NU Kraksaan. Dan sewaktu Kiai Nahrawi menyampaikan surat undangan Pengajian Maulid dan salam KH.Badri Mashduqi kepada KH.Zaini Mun’im tentang gagasan rintisan Bahtsul Masa’il NU Kraksaan, pada tahun 1967. Kiai Zaini menjawabnya :

“Ta’ osa napa Keae ebadha’agi Bahtsul Masa’il, Keae pon tao kabbi ketab (Tidak usah kenapa Kiai untuk diadakan Bahtsul Masa’il, Kiai sudah tahu semua tentang kitab),” jawab KH.Zaini Mun’im.

Dugaan Kiai Nahrawi bahwa gagasan Bahtsul Masa’il sudah disampaikan sebelumnya kepada KH.Zaini Mun’im. Dari Kiai Zaini inilah kemudian Kiai Nahrawi menghadap (untuk menyampaikan kembali kepada) KH.Badri Mashduqi. Apa jawaban KH.Badri Mashduqi ?

“Engghi pon oneng Keae jhe’ oneng ketab, tape se penting pol-kompolla neka (Betul sudah tahu Kiai tentang kitab, tapi yang penting berkumpulnya),” tegas Kiai Badri.

Menurut Kiai Nahrawi, masa itu memang banyak Kiai berseberangan karena perbedaan partai politik. Ada yang ke PPP dan ada yang ke Golkar. Masa itu, KH.Zaini Mun’in duduk di kepengurusan PWNU Jawa Timur, sementara KH.Badri Mashduqi sebagai Rais Syuriyah NU Cabang Kraksaan.

Kiai Nahrawi menegaskan bahwa tempat pelaksanaan kegiatan Bahtsul Masa’il pertama kali di Pesantren Badridduja Kraksaan. Saat itu, KH.Zaini sudah wafat (KH.Zaini Mun’im wafat pada 26 Juli 1976).

Yang hadir dalam kegiatan Bahtsul Masa’il pertama kali, yaitu dari jajaran NU Kraksaan, di antaranya, KH.Hasan Abdul Wafi, KH.Rofi’i Abdul Karim, KH.Abu Hasan. Dari luar daerah yang hadir adalah KH.Muntaha dari Bangil dan yang dari Situbondo hadir, KH.Syamsul, yang biasa dipanggil Kiai Ramben. Beliau ini (KH.Syamsul) memang selalu aktif dalam setiap acara Bahtsul Masa’il. Selanjutnya, dari kegiatan pertama, kemudian melebar ke setiap MWC-MWC, dengan berpindah-pindah.

Untuk melaksanakan kegiatan Bahtsul Masa’il memang tidak mudah, karena harus ijin terlebih dulu ke pihak kepolisian, ke Polsek, baru ke Polres Probolinggo dan selanjutnya ke pihak kepolisian di Malang. “Memang dalam setiap pelaksanaan pengajian, seperti kegiatan pengajian yang dilaksanakan di Pesantren Badridduja selalu ijin terlebih dulu ke pihak kepolisian,” tegas Kiai Nahrawi.

“Malahan e wakto acara neka (Bahtsul Masa’il pertama di Badridduja) oreng bennyak eambe’ sareng polisi, ce’ bennya’en neng e Pasar Sore, neng e Biskop oreng bennyak etangkep sareng polisi (Malah di waktu acara ini (Bahtsul Masa’il pertama di Badridduja), banyak orang yang dihadang oleh polisi, amat banyak di Pasar Sore, di Bioskop (lampu merah menuju Badridduja) terdapat banyak orang yang ditangkap polisi)”, tegas Kiai Nahrawi.

Kami pun tidak lupa mendatangi saksi sejarah, yang banyak mengetahui tentang perjalanan NU Kraksaan, yaitu Ustadz Ahmad Shabri, di Patokan Kraksaan. Berikut panjang lebar kesaksian Ustadz Ahmad Shabri :

Yang bertugas sebagai notulen dalam Bahtsul Masa’il adalah Ustadz/K.Hasyim, insya Allah rumah beliau di Tarokan.

Saya ikut cawe-cawe dalam kepengurusan NU Cabang Kraksaan dari 1973 hingga 1984 muktamar Situbondo.

Sekilas tentang kegiatan Bahtsul Masa’il Cabang Syuriyah NU Kraksaan :

– Penyelenggara : Pengurus Cabang Syuriyah NU Kraksaan di bawah koordinasi Wk Rais Tsani.

– Peserta inti : Semua pengurus Cabang, termasuk A’wan Cabang Syuriyah NU Kraksaan.

– Para tokoh agama/ulama/kyai di setiap Ranting NU yang diorganasir oleh MWC masing-masing. Jadi pengurus Cabang hanya mengundang MWC-nya dan MWC yang mengajak tokoh dari Ranting tsb.

-Peserta Kehormatan : Pengurus Cabang Syuriyah NU Kraksaan dapat dan selalu mengundang ulama dari luar daerah seperti Bondowoso, Probolinggo, dan Pasuruan dalam setiap Bahtsul Masail.

Lanjutannya :

– Masalah yang dibahas : yaitu masalah yang berhubungan dengan hukum Islam terutama masalah waqi’ah (yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat). Masalah-masalah tersebut dihimpun dari usulan setiap MWC maupun perorangan.

– Tempat : Bahtsul Masail dilaksanakan secara bergilir 2 atau 3 bulan sekali di salah satu MWC sesuai permintaan atau kesepakatan seluruh MWC.

Dari mana atau siapa yang menanggung dana untuk konsumsi. Dalam hal ini saya tidak tahu.

Hasil keputusan Bahtsul Masail : Keputusan yang masih mengandung banyak pertentangan berdasar kepada kitab rujukan yang ada dinyatakan mauquf, atau dinyatakan perlu dikeataskan sampai ke tingkat Wilayah/Propinsi.

Komentar saya : Yang bertugas menjadi notulen dalam Bahtsul Masail itu adalah katib awwal yakni ustadz Hasyim Banyuanyar. Dan pertama diadakan Bahtsul Masail sampai yang terakhir kalinya selama sekitar 10 tahunan saya tidak pernah mendapat contoh atau hasil rangkuman Mahtsul Masail itu. Dan memang tugas utama saya hanya melakukan surat menyurat tentang hal itu, bahkan hadir atau tidak, saya ke tempat Bahtsul Masail tidak ditentukan karena semua, maklum bahwa saya punya tugas mengajar di Madrasah Tsanawiyah Badridduja. Saya hanya ingat yang saya datangi yaitu PP.Badridduja, MWC Besuk dan MWC Maron. Dan di Maron ini saya yang oleh Kiai (KH.Badri Mashduqi) disuruh membuka acara resmi Bahtsul Masail itu.
Sekian mudah-mudahan ada manfaatnya dan atas kekurangannya saya minta maaf.

O ya jumlah MWC saat itu saya kawatir ada perbedaan dengan sekarang. Saat itu adalah 13 MWC / Kecamatan, yakni Kraksaan, Besuk, Krejengan, Pajarakan, Gending, Banyuanyar , Maron, Tiris , Krucil, Paiton, Kotaanyar, Pakuniran, dan Gading atau Wangkal.

Saya sendiri (Saifullah),

Begitulah hasil wawancara kami, Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute). Sewaktu saya dan saudara Sukran Sabar mengantarkan undangan sebelum bedah buku dalam rangka Harlah ke- 50 (Setengah Abad) PP.Badridduja Kraksaan (2016). Berlanjut wawancara ke KH.Nahrawi di Sentong Krejengan pada Ahad, 26 Agustus 2016. Kiai Nahrawi lahir pada 1950. Beliau mondok di PP.Badridduja pada 1971-1976. Sementara wawancara dengan Ustadz Ahmad Shabri dilakukan berulang kali. Beliau memang saksi sejarah yang banyak berjasa dan banyak mengetahui tentang perjalanan NU Kraksaan, terutama diwaktu beliau menjadi Katib Syuriyah NU Kraksaan, ketika KH.Badri Mashduqi menjadi Rais Syuriyah NU Cabang Kraksaan. Ustadz Shabri pun terbiasa dan menjadi penulis, baik surat, artikel dan makalah-makalah KH.Badri Mashduqi. Ketika KH.Mukhlisin Sa’ad menikah dengan Nyai Zulfa Badri, saat itulah penulisan surat dan makalah KH.Badri Mashduqi digantikan (diserahkan kepada) KH.Mukhlisin. Begitulah penuturan sekaligus kesejarahan dari saksi sejarah Ustadz Ahmad Shabri.

Kraksaan, 18 Agustus 2017

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher Abdullah Afyudi

About admin

Check Also

Agenda Penulisan Buku Sejarah Tarekat Tijaniyah di Indonesia dan Tokoh-Tokohnya

Dalam rangka mengabadikan dan mengetahui serta meneladani peranan tokoh-tokoh (Muqaddam/Muqaddamah) Tarekat Tijaniyah di Indonesia, lembaga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *