Nyai Hajjah Fatmah Mawardi dikenal amat telaten ngopeni anak-anak mengaji Al-Qur’an. Berikut hasil liputan via WA (Whats App) Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute), hari Jum’at, 25 Agustus 2017, bersama saksi sejarah yang mengaji langsung kepada Nyai Fatmah. Mereka, Sufyan Tsauri (Karanganyar Paiton Probolinggo) dan Ahmad Khairul Amin (Jakarta).

Sufyan Tsauri (santri PP.Badridduja dari Karanganyar Paiton Probolinggo) :

“Ketika itu terdapat 7 orang, saya (Sufyan Tsauri), Ahmad Kharul Amin (Jakarta), Misbahol Munir, Abdul Malik, Abdul Latif (keduanya dari Sampang), Fauzan (Besuki Situbondo), dan Yatim suadara Ustadz Hilmy Imama (Besuki Situbondo).”

“Awalnya ngaji ke Nyai Hajjah Maryamah Anshori (istri KH.Badri Masdhuqi). Karena Nyai Maryam sering miyos (ada acara di luar) dan banyak menemui tamu, lalu Nyai Hj.Fatmah berdawuh untuk, disuruh ngaji Qur’an kepada beliau (Nyai Fatmah) : “Soro kadhenna’ nak-kanak jiyya ma’le ngaji ka engko’ (Suruh ke sini saja kanak-kanak itu biar ngaji ke saya saja).” Lalu kita bertujuh ngaji di kamar Nyai Hj.Fatmah. Dan pernah saya bertiga, saya, Akhmad Khairul Amin dan Misbahol Munir, sempat dikasi amalan dan bacaannya disuruh baca sebanyak 100 kali pada setiap selesai shalat (shalat lima waktu).”

“Ya pasti ditegur semua jika terdapat salah bacanya. Beliau sangat teliti, harkat dan panjang pendeknya. Herannya lagi, beliau me-netenin (meneliti sewaktu mendengarkan bacaan) tanpa memegang Al-Qur’an.”

“Ya…, Nyai Fatmah sering melantunkan syairnya, setelah mengaji. Tapi kita hanya mendengarkan karena tidak ada yang hafal syair. Kadangkala syairnya bahasa Arab tapi yang banyak dilantunkan syair-syair Maduranya.”

“Saya ingat betul waktu itu. Mengajinya pukul 1 siang, setelah shalat dhuhur. Yang sering dipesan oleh Nyai Fatmah, mengaji Al-Qur’an jangan lupa panjang pendeknya, sampai Nyai Fatmah menyuruh untuk membelikan Buku Tajwid kepada Nyai Maryam untuk diberikan kepada teman-temen saya yang ngaji Al-Qur’an.”

“Kami bersama teman-teman membacanya sudah pakai metode (bacaan) tartil. Dan saya berempat pada hari Jumat pagi disuruh mengaji lagi oleh beliau. Alhamdulillah sampai lancar semua ngajinya. Terkadang untuk ngaji pada paginya itu yang mengisi adalah Nyai Sofiah dan Nyai Laili (keduanya adalah cucu Nyai Fatmah).”

“Saya juga salut pada Nyai Fatmah, walaupun ada tamu tetap kita mengaji di ruang tamunya. Kalau Nyai Fatmah mengajar gaji selalu di kamarnya. Walaupun beliau dalam keadaan sakit, beliau tetap mengulang (selalu mengajarinya) dengan berbaring di tempat tidurnya.”

“Barokallah…Allhamdulilla saya sempat berguru (mengaji) kepada Nyai Hajjah Fatmah, walaupun beliau songkan (sakit), beliau tetap semangat bahkan beliau selalu berpesan setiap usai mengaji : “Chong…, oreng mondhug teka’ah ta’taoh ketab kor la taoh ngaji Al-Qur’an lanjeng pendhe’en ka’angguy sango bile lamole dhari pondhug cong, sokor-sokkor taoh kakabbe’na. Barokallah. Alfatehah… (Nak…, Orang mondok meski tidak tahu kitab yang penting bisa mengaji Al-Qur’an, panjang pendeknya, untuk bekal ketika sudah pulang dari Pondok, nak…! Syukur-syukur mengetahui segalanya. Barokallah… Alfatihah)”

“Asyiknya lagi, setiap selesai mengaji, teman-teman dikasi jajan dan disuruh ambil jajannya di ruang tamunya Nyai Maryam. Itulah kedermawanan beliau. Jadi, selain telaten, beliau pun dermawan.”

Begitu juga testemoni (kesaksian) Ahmad Khairul Amin (teman Sufyan Tauri sewaktu mengaji bersama kepada Nyai Fatmah), berikut Ahmad Khairul Amin, menceritakan :

“Saya ceritakan sewaktu mengaji kepada Nyai Fatmah, walaupun saya sendiri tidak terlalu ingat semuanya, sebab dulu saya masih kanak-kanak.”

“Untuk anggota yang ikut waktu itu, saya, Sufyan Tsauri, Misbahol Munir, Amin, Jatim dan Fauzan Besuki (adiknya Pak Helmy). Mereka itu yang saya kenal.”

“Sewaktu ngaji, waktunya itu siang ba’da shalat dhuhur sepulang sekolah.”

“Yang ngerikrut itu (kalau gak salah Nyai Sofiah). Kondisi Nyai Fatmah waktu itu sudah sepuh sekali dan hanya berbaring di tempat tidurnya. Kami mengajinya di samping tempat tidurnya itu, menurut saya, beliau Nyai fatmah itu hafidzoh (hafal Al-Qur’an). Kami ngajinya seperti tadarusan (gantian satu persatu), lalu beliau menyimaknya sangat teliti walau tak pegang Al-Qur’an, siapa pun bilamana ada yang salah dalam bacaanya maka beliau langsung mengoreksinya (Nyai Husna, ibunya Husni Mubarok tuk tambahan infonya tentang kesaksian, beliau termasuk saksi sejarahnya).”

Kraksaan, 26 Agustus 2017

Saifullah (Ketua Syaikh Badri Institute)

Publisher Abdullah Afyudi

Facebook Comments
Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here